fbpx

Amidhan & Riza

KH Dr. Amidhan. Beliau adalah ayah wagub Ahmad Riza Patria. Alumnus MAN I Yogya dan IAIN Suka ini, pernah menjabat Dirjen Haji dan Bimas Islam Departemen Agama RI dan Ketua MUI. Pria asal Kalsel tersebut, dikenal sebagai orang yang sangat energik dan pecinta ilmu.

Saya sering ke rumah Kyai Amidhan di Komplek Kodam Kebon Jeruk untuk diskusi berbagai macam peristiwa aktual sampai sekarang. Di kamar kerjanya, buuaanyaak sekali buku. Rupanya Kyai Amidhan adalah kolektor buku, dari yang klasik sampai modern. Kyai Amidhan waktu kuliah termasuk salah seorang anggota diskusi Limited Group yang anggotanya Mukti Ali, Djohan Effendi, Dawam Rahardjo, dan Ahmad Wahib.

Sebagai aktivis HMI, Amidhan adalah penghubung antara HMI Yogya dan Jakarta. Saat itu, ketua HMI Cabang Yogya Dr. Sugiat dan Ketua PB HMI Dokter Sulastomo (almarhum). Amidhan adalah saksi hidup penculikan Kol. Katamso di Yogya. Saat diculik PKI, Amidhan sedang bertamu di rumah dinas KOREM Pamungkas tersebut. Mengetahui Kol. Katamso diculik PKI, Amidhan langsung melaporkan hal itu ke kantor HMI Cabang Yogya. Malam itu juga langsung rapat mendiskusikan bagaimana melawan PKI. Paginya, Amidhan ditugaskan HMI Yogya utk menemui Ketua PB HMI Sulastomo di Jakarta perihal ulah PKI yang membahayakan negara tersebut.

Persahabatan Amidhan, Djohan Effendi, Dawam Rahardjo, Sugiat, dan Sulastomo di Jakarta berlangsung sampai mati. Kini hanya Pak Amidhan yang masih hidup di antara para aktivis HMI dan pecinta ilmu itu.

Ketika saya tunjukkan naskah buku Pak AR Sang Penyejuk, Kyai Amidhan dan ibunya Riza langsung apresiatif dan mendukung sepenuhnya. Itulah sebabnya buku Pak AR Sang Penyejuk, kata pengantarnya Pak Amidhan. Bu Amidhan yang alumnus Mualimat Muhammadiyah Yogya mengaku sering ke rumah Pak AR waktu tinggal di Kauman. Pak Amidhan ikut mendanai penerbitan buku Pak AR Sang Penyejuk.

Ada dua hal yang saya pelajari dari Pak Amidhan. Pertama semangat belajarnya tak pernah padam. Bayangkan di usia 70 tahun lebih Pak Amidhan mengambil program doktor bidang studi Islam di salah satu negara Eropa. Gelar doktornya diraih pada tahun 2018, ketika usianya 76 tahun. Luar biasa bukan? Kedua cara mendidik anak-anaknya sehingga tumbuh menjadi anak yang relijius dan berbakti kepada orang tuanya.

Ahmad Riza Patria, kalau di depan orang tuanya, persis seperti santri menghadap kyainya. Patuh sekali. Sesibuk apapun Riza Patria kalau dipanggil orang tuanya pasti datang. Dua hari lalu, ketika Riza sedang sibuk mengikuti proses-proses pemilihan Wagub, Pak Amidhan sakit. Riza langsung membawanya ke rumah sakit. Urusan wagub dikesampingkan demi bakti kpd orang tua.

“Riza itu care sekali sama orang tua,” kata Kyai Amidhan tadi pagi melalui telpon kepada saya.

Ada dua obsesi Kyai Amidhan yg hingga kini terus diperjuangkan. Pertama membangun Islamic Center di Sentul. Sampai hari ini masih terus berjalan. Kedua, ingin menyebarkan metode belajar bahasa Arab dan tafsir Qur’an yang mudah dan cepat. Hanya enam bulan orang bisa bahasa Arab sekaligus memahami tafsir Qur’an dgn baik. Karena metode belajar bahasa Arabnya dari bahasa Arab Quran itu sendiri.

Mudah mudahan obsesi beliau tercapai. Dan Riza menjadi wagub yang mampu membawa Jakarta menjadi kota yang aman, bersih, dan ramah.

Kata pribahasa, “buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Riza yg wajahnya amat mirip dengan ayahnya mewarisi legacy tersebut. Aktivis dan pecinta ilmu.

Sekali lagi, Selamat untuk Riza, putra Kyai Amidhan yang terpilih jadi Wagub DKI. Semoga Riza yang anak kyai berwawasan luas tersebut mampu membawa suasana yang tenang, damai, ilmiah, dan enerjik di Jakarta. Amin.

*Oleh: Syaefudin Simon (Independent Journalist)

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close